Pages

Subscribe:

Labels

28/10/12

FOKUS: Problema Kuartet Lini Depan Manchester United

Alex Ferguson

Semakin panjang musim berjalan, kurangnya keseimbangan skuat Manchester United semakin tampak.
Seperti pada musim 1998/99, saat meraih tiga gelar sekaligus, tim ini punya kebiasaan bangkit dari ketinggalan (enam kali dari delapan partai liga, dan dua dari tiga laga Liga Champion).

Juga seperti tim 1998/99, Setan Merah punya empat penyerang berkualitas, tetapi tidak seperti tim legendaris itu, belum ada rencana jelas bagaimana memaksimalkan keempat penyerang itu.

Musim ini, Javier Hernandez terlihat lebih cepat dan lebih bertenaga, dan mencetak dua gol untuk memberikan kemenangan lawan Braga, dan seusai pertandingan, Sir Alex bingung, "Ia membuat saya berpikir. Ia, Van Persie, Rooney, dan Welbeck, sejujurnya saya tak tahu bagaimana menggunakan mereka."

Itu belum menyebut sosok Shinji Kagawa dan Tom Cleverley, yang biasa berperan sebagai gelandang menyerang. Meskipun Rooney dan Welbeck bisa bermain di sayap, sementara Cleverley dan Kagawa, yang absen saat bertandang ke Chelsea karena cedera lutut selama tiga atau empat puekan, bisa bermain lebih ke belakang.

United bisa dianggap punya enam pemain untuk dua posisi, yang tak dielakkan membuat keraguan di awal musim kembali mencuat, mengapa menghabiskan £43 juta untuk Van Persie dan Kagawa, tak peduli betapa rendah harga mereka, kalau ada kekurangan di lini lain dalam tim?

Saat lawan Braga, United memasang lini tengah berlian, dengan Darren Fletcher di belakang, Kagawa dan Cleverley di kedua sisi, dan Rooney di puncak. Dengan Hernandez dan Van Persie di depan, itu menciptakan tiga tempat penyerang dan memasukkan dua pemain yang bermain lebih ke belakang, dengan mengorbankan para pemain sayap seperti Antonio Valencia, Nani, dan Ashley Young.

Keputusan mengistirahatkan Ferdinand membuat Michael Carrick bermain sebagai bek tengah. Itu membuat pertahanan United rapuh, terutama di sisi sayap, tetapi mereka punya daya dobrak cukup untuk meraih kemenangan.
PASUKAN DI TENGAH
4-2-3-1 mampu memperkuat permainan di tengah lapangan United, dan membatasi pergerakan trisula kreatif Chelsea

United telah memasang formasi berlian empat kali musim ini, lawan Newcastle di Piala Liga dan Liga Primer, serta menghadapi CFR Cluj dan Braga di Liga Champions, dengan hasil empat kemenangan.

"Tim-tim akan berpikir apakah kami akan memainkan dua pemain sayap atau formasi berlian, karena kami punya pemain-pemain yang mampu melakukan keduanya," kata Sir Alex sebelum partai Braga. "Para pemain seperti Shinji 
Kagawa dan Tom Cleverley bisa bermain sangat bagus dengan formasi berlian. Dan tentu dalam diri Nani, Young, Valencia, saya punya pemain sayap yang bagus pula."

Sir Alex melanjutkan, "Ini sulit, kami sukses bermain dengan formasi berlian. Sejarah klub ini selalu bermain dengan pemain sayap, terutama di Old Trafford, jadi saya harus membuat keputusan."

Lawan Newcastle, yang memainkan umpan lambung lebih banyak dari tim apapun di Liga Primer musim ini, gaya bermain ini sungguh taktis: banjiri bagian tengah, pastikan United tak kewalahan, dan mengandalkan umpan-umpan dalam daerah sempit yang lebih baik dari Newcastle, serta membiarkan Rooney beroperasi antara lini tengah dan pertahanan 4-4-2 Newcastle.

Untuk partai Minggu lawan Chelsea, keputusan makin sulit, karena kekuatan Chelsea musim ini terletak pada trio Eden Hazard, Oscar, dan Juan Mata dalam formasi 4-2-3-1.

Sir Alex mungkin berpikir ia perlu dua pemain untuk membantu lini belakang dan menganggu kelancaran bola, di mana ia mungkin menggunakan 4-2-3-1 (atau mungkin 4-3-3 dengan memainkan Fletcher bersama Carrick dan Paul Scholes, meskipun itu sepertinya mustahil).

Atau opsi lain untuk menghentikan mereka adalah dengan mengontrol penguasaan bola, memperbanyak pemain di bagian tengah permainan, di mana tentu formasi berlian akan menjadi pilihan.

Di sisi pemikiran lain, Chelsea terlihat rapuh di sisi sayap. Kekurangan alami formasi 4-2-3-1 membuat tiga gelandang menyerang tengah sulit mengejar bek sayap lawan, dan bisa membuat bek sayap Chelsea terekspos.

Gol-gol yang dicetak Gervinho dan Pavel Pogrebnyak lawan Chelsea musim ini keduanya datang saat Ashley Cole ditinggal sendirian, dan untuk waktu singkat pada akhir pekan lalu, pemain Tottenham Gylfi Sigurdsson kerap berhadapan satu lawan satu dengan Branislav Ivanovic, yang dimainkan sebagai bek tengah.

Di musim-musim lalu, United jelas akan memanfaatkan kelemahan itu, dengan mengandalakan pemain sayap dalam serangan balik, dan terus menerus mencari kelemahan bek sayap.

Tapi, musim ini United belum menunjukkan kapasitas bertahan dan perebutan bola seperti sebelumnya dan dengan memainkan Nani dan Valencia sekaligus berarti membuat hanya satu dari empat penyerang akan tampil, kecuali memasang Rooney jauh ke belakang.

Sir Alex pun dihadapkan pada dilema taktik klasik: bermain reaktif dengan mempertahankan sisi tengah lapangan (yang berpeluang mengambil kontrol permainan), atau bersikap proaktif dan menyerang dari sayap (yang berarti siap untuk bertahan dan tak memainkan bola). Masalah Ferguson tentang pemain barunya adalah banyak pilihan hanya terletak di satu bagian lapangan.
Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

0 komentar:

Posting Komentar